Sabtu, 02 November 2013

Makalah Ilmu Al-Qur'an: Asbabun Nuzul



BAB II
Pembahasan

A.                 Pengertian Asbabun Nuzul
Ungkapan Asbabun Nuzul merupakan bentuk Idofah dari kata Asbab dan Nuzul. Namun secara Etimologi Asbabun Nuzul adalah sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Dan ketika istilah itu di gunakan dalam Ilmu Al-Qur'an, Asbabun Nuzul adalah sebab yang melatar belakangi turunnya Al-Qur'an.
Para ulama' berbeda pendapat dalam merumuskan Asbabun Nuzul secara terminologi. Menurut Azzarkoni Asbabun Nuzul adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunnya ayat Al-Qur'an yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadinya.
Menurut Kitab Al-Mana' al-Qotton, Asbabun Nuzul adalah peristiwa yang menyebabakan turunnya Al-Qur'an berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi baik berupa suatu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi.
Kendatipun redaksi pendefinisian di atas sedikit berbeda, semuanya menyimpulkan bahwa yang disebut Asbabun Nuzul adalah kejadian atau peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat Al-Qur'an dalam rangka menjawab, menjelaskan dan menyelesaikan masalah yang timbul dari kejadian tersebut.
Bentuk-bentuk peristiwa yang melatar belakangi turunnya Al-Qur'an sangat beragam. Diantaranya adalah konflik sosial seperti kasus yang terjadi pada salah seorang sahabat yang mengimami shalat dalam keadaan mabuk. Dan berupa pertanyaan yang diajaukan oleh seorang sahabat kepada nabi berkaitan dengan sesuatu yang telah lewat, sedang atau yang akan terjadi.
Persoalan apakah seluruh ayat Al-Qur'an memiliki Asbabun Nuzul atau tidak ternyata menjadi bahan kontroversi di kalangan para ulama'. Sebagaian ulama' berpendapat bahwa tidak semua ayat Al-Qur'an memiliki Asbabun Nuzul. Pendapat tersebut menjadi kesepakatan jumhur ulama', akan tetapi sebagian berpendapat bahwa kesejaharahan arabiah pra Qur'an pada masa turunya Al-Qur'an merupakan latar belakang makro Al-Qur'an sedangkan riwayat Asbabun Nuzul merupakan latar belakang mikronya. Pendapat ini berarti menganggap semua ayat Al-Qur'an memiliki sebab yang melatarbelakangi.

B.                  Pentingnya mengetahui Asbabun Nuzul dalam memahami Al-Qur'an
a.       Menurut Ibnu Taimiyah mengatakan manfaat mengetahui Asbabun Nuzul adalah untuk menolong mufassir dalam menginterpretasikan Al-Qur'an.
b.      Menurut Al-Wahidi menyatakan ketidak mungkinan untuk menginterpretasikan Al-Qur'an tanpa mempertimbangkan aspek kisah Asbabun Nuzulnya.
C.                  Bentuk-Bentuk Asbabun Nuzul
            Dalam beberapa literatur yang ada, redaksi Al-Qur'an atau sighat yang digunakan untuk mengungkapkan sebab diturunkannya ayat Al-Qur'an berbeda-beda. Diantara diredaksi yang digunakan sebagai berikut :

a.       Diantara redaksi yang digunakan berbentuk Nash Sharih (teks yang tuntas jelas mengenai sebabnya) misalnya rawinya menyebutkan sebab turunnya ayat ini karena begini dan begitu.
b.      Ada yang diungkapkan tidak dengan kata sebab tetapi memakai fa' ta'kib (fa' yang berarti maka atau lalu) sesudah dia menerangkan peristiwa tersebut misalnya Rasulullah ditanya orang mengenai peristiwa lalu turunlah ayat.
Akan tetapi redaksi seperti ini tidak dapat dipastikan untuk menunjukkan Asbabun Nuzul. Sighat ini mungkin dapat menjelaskan Asbabun Nuzul akan tetapi tidak dapat menjelaskan suatu hukum yang ada padanya. untuk menentukan antara keduanya diperlukan dalil atau qarinah yang lain yang dapat membantu.

D.                 Banyaknya Riwayat tentang Satu Asbabun Nuzul
Dalam memahami Asbabun Nuzul, kadang-kadang banyak riwayat yang berbeda antara satu dengan yang lain tergantung pada orang yang meriwayatkan, padahal itu hanya satu sebab dan terdapat dua riwayat.
a.       Riwayat Shahih
Seperti contoh ada Jundab Al-Bajili menceritakan : pernah Rasul merasakan sakit dua atau tiga malam tiba-tiba datang Lambi kepada beliau, seorang wanita mengatakan " ya Muhammad sesungguhnya saya mengharap setanmu meninggalkanmu " lalu turunlah surat ad-Dhuha ayat satu sampai tiga.
وَاضُّحَى . وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى . مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (الضحى : 1-3)
Artinya : "demi waktu dhuha. Demi malam bila ia telah gelap. Rabbi/ tuhanmu (muhammad) tidak meningglkanmu tidak pula membenci kamu "(QS. Ad-Dhuha : 1-3).
Riwayat ini terdapat dalam shahih bukhori dan shahih muslim. Dengan demikian lebih rajih atau lebih kuat.

b.       Riwayat Dho'if (Lemah)
Dalam suatu riwayat Tabrani dan Ibnu Syaibah meriwayatkan dari Hafsah dari Maisarah dari ibunya dari saudara perempuannya yang pernah menjadi pembantu Rasul. Pernah seekor jarwan (anak anjing atau binatang buas) masuk rumah Nabi dia masuk ke bawah dipan Nabi dan mati disini. Sesudah itu, beberapa hari maka wahyu tidak turun kepada Nabi. Lalu beliau menanyakan kapada Haulah (saudara khodijah). Apa yang terjadi dirumah rasul karena jibril tidak datang-datang kepadaku ? saya bersihkan rumah beliau dan saya sapu bagian bawah tempat tidur beliau liranya ada jarwan lalu saya buangkan. Lalu turunlah ayat satu sampai tiga dari surat ad-Dhuha di atas.

E.                  Berbilang Sebab Sedang Yang Turun Itu Saja
Kadang-kadang suatu kejadian menjadi sebab bagi dua wahyu yang diturunkan (dua ayat atau lebih). Dan itulah yang diistilahkan dengan Ta’addudun Nazili Wa Sababu Wahidin. Contoh suatu kejadian yang menjadi sebab bagi dua ayat sedang antara yang satu dengan yang lain berselang lama. Ialah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Ummu Salamah
“ Ya Rasulullah saya tidak mendengar tentang sebutan wanita walaupun sedikit mengenai hijrah”. Maka allah menurunkan surat Ail-Imran ayat 195.
Dan Al-Hakim meriwayatkan pula dari ummu salamah dan berkata
“Ya Rasulullah engkau menyebut para pria tapi engkau tidak menyebut para wanita” maka Allah menurunkan surat Al-Ahzab ayat 35.

Tidak ada komentar: