Minggu, 13 Januari 2013

IBNU SINA; Biografi, Karya & Pemikiran



IBNU SINA
SEJARAH, KARYA-KARYA DAN PEMIKRANNYA

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas Pengantar Filsafat Islam
Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Nurul Jadid

Dosen Pembimbing:
Drs. Suhermanto Jakfar

Mata Kuliah;
Pengantar Filsafat Islam



 


Fahri Farghiz





Oleh :
Fahri Farghiz
Ustman
Cony Costantiny



INSTITUT AGAMA ISLAM NURUL JADID (IAINJ)
FAKULTAS SYARI’AH JURUSAN AL-AHWAL AL-SYAKHSHIYAH (AS)
PAITON PROBOLINGGO
JUNI 2008




BAB I

IBNU SINA
A.    Riwayat Hidup
Ibnu Sina dilahirkan pada masa kekacauan dimana Khilafah Abbasiyah menglami kemunduran dan negeri-negeri yang mula-mula berada dibawah kekuasaan Khilafah tersebut mulai melepaskan diri satu-persatu untuk berdiri sendiri. Kota Baghdad sendiri sebagai pusat pemerintah Khilafah Abbasiyah dikuasai oleh golongan Bani Muwai pada tahun 334 H dan kekuasaan mereka berlangsung terus sampai tahun 447 H.[1]
Ibnu Sina bernama lengkap Abu Ali Al-Husain Abdullah Bin Sina atau dalam tulisan arabnya (أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا). Ibnu Sina lahir pada tahun 980 M/370 H. di Afsyana sebuah desa kecil dekat Bukharah, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia).[2] Namun mengenai tahun kelahirnnya ini terjadi perbedaan dikalangan pakar. Ada yang menyatakan bahwa Ibnu Sina lahir pada:
a.       Tahun 370 menurut Qifthi, Ibnu Khallikan dan Baihaqi seperti yang tecantum di atas
b.      Tahun 375 menurut keterangan Ibnu Abu Ushaybi’ah
c.       Tahun 373 menurut satu keterangan
d.      Tahun 363 menurut keterangan lainnya[3]
Ayahnya, Abdullah adalah seorang gubernur Samanite yang kemudian ditugaskan di Bukharah. Ia adalah seorang sarjana terhormat Isma’iliyah, berasal Balkh Khorasan. Sedangkan ibunya adalah orang asli dimana Ibnu Sina dilahirkan. Yakni di Afsyanah.[4]
Ibnu Sina yang lebih dikenal sebagai Aviciena oleh masyarakat barat adalah seorang tokoh terbesar sepanjang zaman, seorang jenius yang mahir dalam berbagai cabang ilmu. Dialah pembuat ensiklopedi terkemuka dan pakar dalam bidang kedokteran, filsafat, logika, matematika, etika, astronomi, musik, dan puisi.
Ibnu Sina dididik di bawah tanggung jawab seorang guru, dan kepandaiannya segera membuatnya menjadi kekaguman diantara para tetangganya; beliau menampilkan suatu pengecualian sikap intelektual dan seorang anak yang luar biasa kepandaiannya (Child prodigy) yang telah menghafal Al-Quran pada usia 5 tahun[5]. Kecerdasaannya yang sangat tinggi membuatnya menonjol sehingga salah seorang gurunya menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun kedalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu.
Pada usia 16 tahun Ibnu Sina telah belajar beliau telah mampu menjadi seorang dokter yang ahli dengan mnggunakan cara eksperimen. Selanjutnya selama satu setengah tahun memperdalam mantiq dengan seluk beluknya.
Suatu cerita mengatkan bahwa pada masa itu Ibnu Sina telah hafal buku metafisika Aristoteles di luar kepala tetapi beliau belum memahaminya. Tatkalah beliau menemukan buku Al-Farabi yang mengomentari tulisan Aristoteles tersebut barulah beliau dapat memahami isi buku tersebut dengan baik. Sehingga beliau sendiri kedudukan Al-Farabi sebagai guru kedua (Al-Mu’allimuts Tsani).[6]
Setelah ayahnya wafat, beliau meninggalkan Bukharah karena gangguan politik dan pergi kekota Gorgan, yang terkenal dengan kebudayaannya yang tinggi. Dan beliau wafat pada tahun 428 H pada usia 58 tahun, beliau pergi setelah menyubangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia dan namanya akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Ibnu Sina adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.

B.     Guru-Guru
Tentang guru Ibnu Sina, tidak banyak yang diketahui. Diantara guru-gurunya Abu Abdullah Al-Natili yang mengajarkannnya tentang filsafat, mantiq, matematika, geometri dan kedokteran.[7] Juga Isma’il sang Zahid yang merupakan salah satu gurunya pula.
Tetapi Ia menyebut seorang penjual makanan yang kelihatannya ahli dalam bidang aritmatika India dan juga seorang penganjur Isma’iliyah yang pernah mengunjungi ayahnya yang telah menggolkan tujuan-tujuan Isma’iliyah.[8]
C.    Karya dan Pemikiran
a.       Karya-Karya
Ibnu Sina menelorkan banyak karya. Dan diantara karya-karyanya adalah:
1.      Al-Qonun fi Al-Thib diterjemahkan menjadi Canon Of  Medicne oleh orang barat yang menjadi rujukan utama ilmu pengobatan dalam dunia kedokteran sampai abad 19. Dan sudah dicetak berulangkali serta telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.
2.      As-Syifa’ yang terdiri dari 15 jilid dengan devinisi konvensional metafisika sebagai studi tentang entitas-entitas yang bersifat in-materiil[9]
3.      Al-Isyarat dan beberapa risalah yang memperlihatkan “kecanggungan mistis” dalam dirinya[10]
4.      Al-Najat terdiri dari 10 jilid yang dalam salah satu babnya Ibnu Sina mengkritik atas faham mutakallimin tentang butuhnya mahuk pada yang lain[11]
5.      Al-Hikmah terdiri dari 10 jilid
6.      Remedies for The Heart yang mengandungi sajak-sajak pengobatan. Dalam buku ini, ia telah menceritakan dan menguraikan 760 jenis penyakit bersama cara untuk mengobatinya[12]
Selain karya-karya di atas, masih banyak lagi karyanya yang lain yang juga membahas tentang kedokteran dan filsafat.
b.      Pemikiran
Disini kami akan menguraikan sekilas tentang beberapa pemikran Ibnu Sina dalam dunia filsafat. Diantara pemikiran beliau adalah:
1.      Metafisika
Pemikiran metafisika Ibnu Sina bertitik tolak pada pandangan filsafatnya yang terbagi tiga jenis. Yaitu :
a.       Penting dalam dirinya sendiri, tidak perlu kepada sebab lain untuk kejadiaannya, selain dirinya sediri yaitu Tuhan.
b.      Berkehendak kepada yang lain, yaitu mahluk yang butuh kepada yang menjadikannya.
c.       Mahluk mungkin, yaitu bisa ada bisa pula tidak ada, dan ia sendri tidak butuh kepada kejadiannya maksudnya benda-benda yang tidak berakal seperti air, batu, api dan lain-lain.
2.      Hukum Sebab Musabbab
Tuhan adalah sebab yang efesien dari alam, tidak perlu didahului oleh waktu. Dengan kata lain Ibnu Sina memandang antara sebab dan akibat, walaupun bagaimana sebab itu, datang juga dari sebab. Tuhan sebagai sebab, bertindak dalam alam yang bergerak terus menerus dalam wujudnya, yang adalah sebagai sebab diriny sendiri atau dibutuhkan oleh yang lain.
3.      Tuhan Maha Mengatur dan Maha Tahu
Devinisi tentang Tuhan yang Maha Tahu diterangkan Ibnu Sina dalam kitabnya Al-Isyarat sebagai berikut: “Maha Tahu Adalah perwakilan dalam alam semesta, dalam pengetahuan abadi dalam suatu waktu tertentu”. Undang pelimpahan Tuhan dalam bentuk hirarki dan kekhususan adalah dengan pelimpahan rasionil. Keterangan yang berupa undang alam seperti tersebut di atas menyebabkan orang dapat melihat bagaimana Ibnu Sina menguraikan tentang sifat maha Tuhan dan mengenai baik dan buruk. Tampaknya dala bentuk yang demikian itu, orang akan merasa psimis, dan memberikan uraiannya bahwa antara baik dan buruk, baiklah yang akan menang. Oleh karena itu ia menyempurnakan wujudnya.
4.      Akal
      Ibnu Sina merumuskan bahwa akal merupakan suatu kekuatan yang terdapat dalam jiwa. Menurut Ibnu Sina ada dua macam akal, yaitu: akal manusia dan akal aktif. Semua pemikiran yang muncul dari manusia sendiri untuk mencari kebenaran disebut akal manusia, yaitu semua pemikiran manusia yang mendatang kedalam akal manusia dari limpahan ilham ketuhanan.[13]
5.      Emanasi
Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga menganut teori faidh (Emanasi). Bagi Ibnu Sina, Tuhan sebagai akal murni memancarkan akal pertama. Ta’aqqul akal pertama memancarkan akal kedua, falakul aqsha (langit terjauh) dan jiwa falaq tersebut selanjutnya ta’aqqul akal kedua memancarkan akal pertama, falakuts tsawabit dan jiwanya. Demikian ta’aqqul dari akal-akal itu secara berkesinambungan hingga sampai pada akal yang kesepuluh dan bumi. Dari akal kesepuluh yang disebut akal fa’al memancarlah segala yang ada di bawah bulan.
6.      Jiwa
Di dalam masalah kejiwaan, Ibnu Sina termasuk penganut paham dualisme (tsanawiyah). Bagi Ibnu Sina subtansi jiwa itu berlainan sama sekali dari materi tubuh meskipun dia berasal dari pokok yang sama. Yakni akal fa’al. Tetapi ia mempunyai perbedaan-perbedaan yang prinsipil.
7.      Teori Kenabian
Sebagaimana yang tertulis di atas, bahwa akal itu bertingkat-tingkat. Tingkat pertama ialah akal potensial. Kadang-kadang seorang manusia diberi kadar akal potensial yang besar sehingga dengan itu Ia dapat secara langsung berhubungan dengan akal fa’al tanpa melalui latihan-latihan
      Akal yag mempunyai kemampuan demikian oleh Ibnu Sina disebut dengan akal kudus (roh suci)  yang merupakan taraf tertinggi yang dapat dicapai oleh seseorang. Bila taraf ini telah bisa dicapi oelh seseorang, terbukalah baginya ilmu rabbani.[14]
Dalam filsafat, kehidupan Ibnu Sina mengalami dua periode penting. Pertama, adalah periode ketika Ibnu Sina mengikuti paham filsafat paripatetik. Pada perode ini, Ibnu Sina dikenal sebagai penerjemah pemikiran Aristoteles. Kedua, adalah ketika Ibnu Sina menarik diri faham paripatetik dan seperti yang dikatakannya sendiri cenderung kepada pemikiran iluminasi.
Berkat telaah dan studi filsafat yang dilakukan para filosof sebelumnya semisal Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina berhasil menyusun sistem filsafat Islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang tak terjawab sebelumnya.[15]
Ibnu Sina mengembangkan kosep logikanya kurang lebih semodel dengan komentar al-Farabi tentang Organon-nya Aristoteles. Filsafat Logikanya bisa ditemukan dalam kitabnya yang berjudul al-Najat dan dalam beberapa bagian penting karya yang lain yang berjudul al-Isharat. Dalam sebuah monograf ringkas tapi sangat penting yang berisi tentang ‘Klasifikasi Ilmu Pengetahuan”, Ibn Sina membagi pengetahuan logika ke dalam sembilan bagian yang berbeda, yang berkaitan dengan delapan buku Aristoteles yang didahului oleh Isagoge-nya Prophyry,  salah satu buku yang sangat terkenal di Timur pada abad pertengahan.
Bagian pertama, berhubungan dengan Isagoge, adalah filsafat umum tentang bahasa yang berkaitan dengan pembicaraan dan elemen-elemen abstraknya. Kedua, berkaitan dengan ide-ide sederhana dan abstrak, yang dapat diterapkan pada semua hal, dan disebut oleh Aristoteles dengan kategori. Ketiga, berkaitan dengan kombinasi dari ide-ide sederhana tersebut untuk menyusun proposisi yang dinamakan Aristoteles dengan hermeneutika dan oleh filosof Muslim dengan al-ibarah atau al-tafsir. Keempat, mengkombnsikan proposisi  dalam bentuk-bentuk silogisme yang berbeda  dan merupakan bahasan pokok First Analytics Aristoteles, yaitu analogi (al-qiyas). Kelima, mendiskusikan berbagai hal yang harus dipenuhi oleh premis-premis yang darinya rangkaian reasoning dijalankan dan ini disebut dengan Second Analytics, yaitu pembuktian (al-burhan). Keenam, mempertimbangkan sifat dan batas-batasan penalaran yang mungkin, yang berkaitan dengan Topic-nya Aristoteles, yaitu perdebatan (al-jadl). Ketujuh, membicarakan kesalahan penalaran logis, intensional atau yang lain, dan ini disebut Sophisticii atau kesalahan-kesalahan (al-maghalit).  Kedelapan,  menjelaskan seni mempersuasi secara oratorikal dan ini disebut Rhetoric atau pidato (al-khatabah). Kesembilan, menjelaskan seni mengaduk jiwa dan imajinsi pendengar melalui kata-kata. Ia adalah puisi (al-shi’r) atau Poetics-nya Aristoteles yang dianggap filosof Muslim menjadi bagian dari Organon logisnya.
Logika digunakan Ibn Sina dalam pengertian yang luas. Logika silogistik dianggapnya hanya bagian darinya. Sekalipun Ibn Sina memberikan logika posisi yang sangat penting di antara ilmu-ilmu yang lain, dia pada saat yang sama juga mengakui batas-batasnya. Fungsinya, dia jelaskan sangat jelas, bisa juga digunakan untuk hal yang negatif. Tujuan utamanya adalah menyediakan bagi kita beberapa aturan yang akan mengarahkan kita agar tidak jatuh ke dalam kesalahan penalaran. Jadi, logika tidak menemukan kebenaran baru, tapi membantu kita untuk menggunakan kebenaran yang telah kita miliki tersebut dengan baik dan mencegah kita dari dari penggunaan yang salah atas kebenaran tersebut.
Penalaran, menurut Ibn Sina, berawal dari terma-terma khusus yang diterima dari luar. Ini merupakan data awal pengalaman atau prinsip-prnsip pertama pemahaman. Rangkaian deduksi dihasilkan dari pengetahuan, diturunkan dari pengetahuan yang mendahului, dan ini bukan tidak terbatas. Ia harus memiliki starting point yang menjadi pondasi dari keseluruhan struktur logika. Starting point ini tidak didirikan di dalam logika itu sendiri, tapi di luarnya.
Ini secara jelas mengindikasikan bahwa logika seperti itu semata-mata sistem formal, tidak terkait dengan kebenaran atau kesalahan. Isi kebenaran dari sistem tersebut tidak datang dari dalam, tapi dari luar, yaitu dari data pengalaman pertama.[16]


BAB II
Penutup
D.    Analisa dan Kesimpulan
Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.
Dari beberapa pemaparan di atas, jelas sekali bahwa Ibnu Sina banyak terpengaruh oleh pemikiran dari al-Farabi, juga pera filosof Yunani khusunya Aristoteles. Disamping beliau juga banyak memberikan pengaruh yang kuat pada filosof Islam juga pada para filosof Yunani sesudahnya.
Suatu contoh Albertos Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran Dominique yang hidup antara tahun 1200-1280 Masehi adalah orang Eropa pertama yang menulis penjelasan lengkap tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal sebagai perintis utama pemikiran Aristoteles Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia Kristen dengan pemikiran Aristoteles. Dia mengenal pandangan dan pemikiran filosof besar Yunani itu dari buku-buku Ibnu Sina.
Yang jelas, Ibnu Sina adalah seorang sosok yang telah menymbangkan banyak khazanah keilmuan pada para tunas-tunas muda di masa-masa setelah juga untuk masa yang akan datang.



DAFTAR PUSTAKA


Ali, Yunasril. Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Bumi Aksara, Jakarta,  1991
Drs. Sudarsono, SH. Filsafat Islam, Rineka Cipta, Bandung. 1989
Fakhri , Majid. Sejarah Filsafat Islam, Mizan, Bandung. 2002
Hanafi Ahmad. Pengantar Filsafat Islam, LKiS,  Jogjakarta. 1998
www.iptek.net.id




[1]  Ahmad Hanafi, MA; Pegantar Filsafat Islam ( Jogjakarta: LKiS, 1998) hal. 115
[2]  www.iptek.net.id
[3]  Sudarsono, SH. Filsafat Islam ( Bandung: Rineka Cipta, 1989) hal. 41
[4] Yunasril Ali; Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam ( Jakarta: Bumi Aksara, 1991)  hal. 58
[5]  Namun di sebagian referensi dikatakan bahwa Ibnu Sina baru hafal Al-Qur’an pada umur 10 tahun
[6]  Ibid, hal. 59
[7]  Ibid.
[8]  Ibid, hal. 40
[9]  Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam ( Bandung: Mizan, 2002) Hal. 56
[10]  Ibid. hal: 56
[11]  Idem. hal: 46
[12]  www.iptek.net.id
[13]  Ahmad Hanafi. Pengantar Filsafat Islam. Hal. 52
[14]  Yunasril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi. Hal. 66
[15]  www.iptek.net.id

[16]  Ibn Sina: Representasi Puncak Filsafat Arab, Makalah Tanpa Nama Penulisnya/www.iptek.net.id

Tidak ada komentar: