Selasa, 06 Mei 2008

Keterpurukan


Kalau anda bertanya tentang waktu, tentu jawabnya waktu adalah mahluk Allah SWT. yang paling hebat. Kenapa begitu...? Karena waktu akan terus mengalir tak terbatas jarak, tak terpenggal oleh barisan gunung yang menghampar dari pulau ke pulau. Ketika kita tahu bahwa "Kullu Syai in Halikun Illa Wajhahu", maka bagaimana dengan waktu? Ketika hari Kiamat yang merupakan kejadian dahsyat memporak-porandakan seluruh isi langit dan bumi, maka bagaimana dengan "waktu"? Sanggupkah hari Kiamat menghancurkan "waktu"? tentu jawabnya hanya Sang Pencipta "waktu" yang tahu. Subhanallah.....

Waktu... bagiku "waktu" adalah keterpurukan. Saat ini seolah "waktu" begitu kejam memisahkan antara dua kesetiaan yang selama ini saling merajut dan merangkai sebuah kata "ia". Seolah "waktu" begitu kejam paksakan kedamaian yang telah bersemi dan semerbak keseluruh ladang hayal menjadi keterpurukan yang menindih bising hayalku.
Tapi terima kasih "waktu".... Karena engkaulah aku menjadi sadar bahwa debunya cinta ternyata tidak dapat menghembus dan mengotori jendela hatiku untuk kujadikan sebuah kenyataan keindahan yang akan tertuang sepanjang matahari masih mampu bersinar, sapanjang rembulan masih menaburi keindahan pada setiap pojok-pojok kehidupan malam.

Fakkir Qobla An Taf'al


Berfikir sebelum berbuat adalah keniscayaan. Perbuatan yang tidak didahului dengan pemikiran adalah deras hujan tanpa awan. Mungkinkah...? Jika memungkinkan, itu berarti tumpukan kebohongan. Jika tidak memungkinkan, Maka itu adalah kenyataan yang bermuara pada nilai keabadian. Dalam hal ini, saya tidak memutlakkan kebenaran pemikiran, karena otak manusia yang merupakan pondasi dari berbagai pikiran tentu masih bisa dibajak oleh noda kesalahan yang mewarnai kemurnian menjadi sebuah kenyataan yang tak berharga.